عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ؛ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tinggalkanlah buruk sangka, karena buruk sangka adalah sedusta-dusta percakapan. Janganlah memata-matai dan mencari-cari kesalahan. Jangan saling hasad, saling membelakangi dan saling benci. Tetapi, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara."
Takhrij: Muttafaq 'alaihi
Pelajaran dari hadis
1- Berburuk sangka pada orang yang terlihat padanya tanda-tanda keburukan diperbolehkan sehingga seorang mukmin harus cerdas dan tidak boleh terkecoh oleh pelaku keburukan dan kefasikan. 2- Maksud hadis adalah peringatan dari tuduhan yang diyakini dalam hati dan terus-menerus diyakini. Adapun yang hanya melintas dalam hati dan tidak diyakini, maka ini dimaafkan. 3- Mengharamkan sebab-sebab saling menjauhi dan pemutusan silaturahmi di antara anggota masyarakat muslim, seperti mencari-cari kesalahan, hasad dan semisalnya. 4- Wasiat agar berinteraksi kepada muslim seperti interaksi kepada saudara dengan penuh ketulusan dan cinta.