عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضيَ اللهُ عنهُ قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ القُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا القُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا.
Jundub bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: "Dahulu kami bersama Nabi ﷺ dan kala itu kami masih remaja yang kuat. Kami belajar keimanan sebelum belajar Al-Qur`an. Kemudian kami belajar Al-Qur`an, maka semakin bertambah iman kami."
Takhrij: HR. Ibnu Majah
Pelajaran dari hadis
1- Penjelasan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. 2- Skala prioritas dalam pendidikan anak dan upaya kuat untuk mengisi mereka dengan keimanan. 3- Al-Qur`an dapat menambah keimanan, menerangi hati, dan melapangkan dada.