عَنْ عَمْرِو بْنِ الحَارِثِ خَتَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخِي أُمِّ المؤمِنين جُوَيْرِيَةَ بِنْتِ الحَارِثِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُم، قَالَ: مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مَوْتِهِ دِرْهَمًا وَلاَ دِينَارًا وَلاَ عَبْدًا وَلاَ أَمَةً وَلاَ شَيْئًا، إِلَّا بَغْلَتَهُ البَيْضَاءَ، وَسِلاَحَهُ، وَأَرْضًا جَعَلَهَا صَدَقَةً.
'Amr bin Al-Ḥāriṡ, ipar Rasulullah ﷺ, saudara Ummul Mukminin Juwairiyah binti Al-Ḥāriṡ -raḍiyallāhu 'anhum- berkata, "Rasulullah ﷺ ketika wafat tidak meningalkan dirham, dinar, budak laki-laki atau perempuan, atau sesuatu apa pun lainnya, kecuali bagal berwarna putih milik beliau, senjatanya, serta tanah yang sudah disedekahkan."
Takhrij: HR. Bukhari
Pelajaran dari hadis
1- Para Nabi tidak meninggalkan warisan. 2- Penjelasan perihal apa yang ditinggalkan oleh Nabi ﷺ setelah beliau wafat. 3- Nabi ﷺ wafat tidak meninggalkan (materi duniawi) apa pun yang terlihat penting disebabkan karena beliau sangat dermawan, sering berinfak, dan berbuat baik. 4- Al-Kirmani mengatakan, "Ḍamīr (kata ganti) dalam sabda beliau "wa ja'alahā" kembali ke ketiga benda-benda peninggalan beliau: bagal, senjata, dan tanah. Bukan kembali ke tanah saja." 5- Kata "al-khatan" maknanya: saudara istri, dan "al-akhtān" adalah kerabat dari pihak istri.