Sholat Gerhana

Sholat sunnah saat gerhana matahari (kusuf) atau gerhana bulan (khusuf).

Hukum
Sunnah muakkad, bagi laki-laki maupun perempuan, musafir maupun mukim.
Rakaat
2 rakaat — tiap rakaat boleh 2 kali berdiri & 2 kali rukuk
Waktu
Saat gerhana berlangsung: sejak gerhana mulai sampai selesai. Untuk gerhana matahari, waktunya juga berakhir bila matahari terbenam.

Dalil

QS. Fushshilat: 37

وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

“Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya,” (QS Fushilat: 37).”

Hadis

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللّٰهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَادْعُوا اللّٰهَ وَصَلُّوا حتَّى تَنْكَشِفَ

“Matahari dan bulan merupakan setengah dari beberapa tanda kekuasaan Allah, bukan karena matinya seseorang atau bukan (pula) karena hidupnya, maka ketika kalian melihat gerhana, berdoalah dan shalatlah sampai gerhana tersebut hilang (terang)”

(HR al-Bukhari)

Niat

Gerhana matahari

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallî sunnatan likusûfisy syamsi rak’ataini lillâhi ta’âlâ

“Saya niat shalat sunnah gerhana matahari dua rakaat karena Allah ta’âla.”

Gerhana bulan (imam/makmum)

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا/مَأمُومًا لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini imâman/makmûman lillâhi ta‘âlâ

“Saya shalat sunah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah SWT.”

Tiga cara pelaksanaan

Menurut Syarah Yaqutun Nafis, sholat gerhana boleh dikerjakan dengan salah satu dari tiga cara (dari yang paling ringan sampai paling utama):

  1. Dua rakaat seperti sholat sunnah biasa (seperti tahiyatul masjid) dengan bacaan pendek — paling ringan.
  2. Dua rakaat, tiap rakaat dua kali berdiri dan dua kali rukuk, tanpa memperpanjang bacaan.
  3. Seperti cara kedua dengan bacaan panjang — paling utama.

Tata cara (dua kali berdiri & rukuk)

  1. Niat dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram.
  2. Membaca doa iftitah, ta'awudz, Al-Fatihah, lalu surat.
  3. Rukuk, lalu i'tidal (bangkit) dan kembali berdiri: membaca Al-Fatihah dan surat lagi.
  4. Rukuk kedua, i'tidal, lalu sujud dua kali seperti biasa.
  5. Berdiri untuk rakaat kedua dan mengerjakannya sama seperti rakaat pertama.
  6. Tasyahud akhir, lalu salam.

Untuk cara yang paling utama, surat yang dianjurkan berturut-turut pada empat kali berdiri: Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, Al-Maidah; tasbih saat rukuk dan sujud dibaca lama (kira-kira seukuran 100, 80, 70, lalu 50 ayat).

Boleh cukup Al-Fatihah tiap berdiri

ولو اقتصر على الفاتحة في كل قيام أجزأه، ولو اقتصر على سور قصار فلا بأس. ومقصود التطويل دوام الصلاة إلى الانجلاء

“Kalau seseorang membatasi diri pada bacaan Surat Al-Fatihah saja, maka itu sudah memadai. Tetapi kalau seseorang membatasi diri pada bacaan surat-surat pendek setelah baca Surat Al-Fatihah, maka itu tidak masalah. Tujuan mencari bacaan panjang adalah mempertahankan shalat dalam kondisi gerhana hingga durasi gerhana bulan selesai”

(Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz I, halaman 303)

Bacaan sholat gerhana matahari dibaca pelan (dikerjakan siang hari), sedangkan gerhana bulan dibaca keras.

Anjuran

  • Tanpa adzan dan iqamah; panggilan cukup dengan lafal ash-shalâtu jâmi'ah.
  • Mandi sebelum sholat, tanpa berhias.
  • Bila berjamaah, imam berkhutbah dua kali setelah sholat — berisi ajakan bertaubat, beristighfar, bersedekah, dan meninggalkan maksiat — tanpa takbir seperti khutbah Id.
  • Khutbah gerhana bulan boleh tetap dilaksanakan meski gerhana sudah selesai.
Niat mandi sholat gerhana

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِصَلَاةِ الْكُسُوْفِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla lishalâtil kusûfi sunnatan lillâhi ta’âlâ

“Aku niat mandi untuk gerhana matahari sunnah karena Allah ta’ala.”

Tata cara di halaman ini mengikuti rujukan yang dicantumkan (umumnya mazhab Syafi'i). Ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam beberapa rinciannya.

Rujukan