Sholat Istikharah

Sholat sunnah untuk memohon pilihan terbaik dari Allah.

Rakaat
2 rakaat
Waktu
Kapan saja, siang maupun malam, kecuali waktu-waktu terlarang. Sepertiga malam terakhir termasuk waktu terbaik.

Kapan dikerjakan

Ketika harus memilih atau menentukan suatu urusan (jodoh, pekerjaan, tempat kuliah, dan lain-lain), untuk memohon pilihan terbaik dari Allah.

Dalil

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا الاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ

“Rasulullah saw mengajari kami (para sahabat) untuk salat istikharah ketika menghadapi setiap persoalan, sebagaimana beliau mengajari kami semua surat dari Al-Quran. Beliau bersabda, ‘Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat sunnah dua rakaat ...’”

(HR Imam al-Bukhari; lihat An-Nawawi, al-Adzkar, 1997: 137)

ShahihShahih Bukhari No. 1166 (populer: No. 1162)

Dari Jabir bin Abdillah.

Lihat hadis lengkap →

Niat

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْاِسْتِخَارَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallî sunnatal istikhârati rak’ataini lillâhi ta’âlâ.

“Aku berniat shalat sunnah istikharah dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Bacaan surat

Menurut Imam al-Ghazali (Ihya' Ulumiddin): rakaat 1 Al-Fatihah + Al-Kafirun; rakaat 2 Al-Fatihah + Al-Ikhlas.

Doa setelah salam

اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِيْ وَدُنْيَايَ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ وَعَـاجِلِهِ وَآجِـلِهِ فَاقْدُرْهُ لِيْ وَبَارِكْ لِي فِيهِ ثُمَّ يَسِّرْهُ لِي وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِيْ وَدُنْيَايَ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ عَاجِلِهِ وَآجِـلِهِ فَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ أَيْنَـــمَا كَانَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allâhumma shalli wa sallim ‘alâ sayyidina muḫammadin, Alḫamdulillâhi rabbil ‘âlamîn. Allâhumma innî astakhîruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa lâ aqdiru, wa ta’lamu wa lâ a’lamu, wa anta ‘allâmul ghuyûb. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hâdzal amra khairun lî fî dînî wa dun-yâya wa ‘âqibati amrî ‘âjilihi wa âjilihi faqdurhu lî wa bârik lî fîhi tsumma yassirhu lî. Wa in kunta ta’lamu anna hâdzal amra syarrun lî fî dînî wa dun-yâya wa ‘âqibati amrî ‘âjilihi wa âjilihi fashrifnî ‘anhu washrifhu ‘annî waqdur liyal khaira ainamâ kâna innaka ‘alâ kulli syai-in qadîr. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidina muḫammadin, walḫamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah dengan pengetahuan-Mu, aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan sementara aku tidak mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam bagi agamaku, kehidupanku, akhir urusanku, duniaku, dan akhiratku, maka takdirkanlah hal tersebut untukku. Mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, akhir urusanku, duniaku, dan akhiratku, maka palingkanlah aku darinya dan palingkanlah dia dariku. Takdirkanlah yang terbaik untukku apa pun keadaannya. Sesungguhnya engkau Yang Maha Bisa atas segala sesuatu.”

Setelah membaca doa, sebutkan urusan yang dimohonkan. Shalawat dan hamdalah di awal dan akhir doa adalah anjuran Imam an-Nawawi.

Setelah istikharah

Jika urusan itu baik menurut Allah, biasanya jalannya dimudahkan; jika tidak, akan dipalingkan. Usaha lahir tetap harus dijalankan.

Waktu terlarang

Sholat istikharah termasuk sholat bersebab yang datang belakangan, sehingga tidak dikerjakan pada lima waktu berikut:

  1. Setelah sholat Subuh hingga matahari terbit.
  2. Saat matahari terbit hingga naik kira-kira satu tombak.
  3. Saat matahari tepat di atas (istiwa) hingga tergelincir ke barat.
  4. Setelah sholat Ashar hingga matahari terbenam.
  5. Saat matahari terbenam (menguning) hingga terbenam sempurna.

Tata cara di halaman ini mengikuti rujukan yang dicantumkan (umumnya mazhab Syafi'i). Ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam beberapa rinciannya.

Rujukan