Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa saja yang pernah melakukan suatu kezaliman terhadap saudaranya, baik itu terkait kehormatannya ataupun perkara lain, maka hendaklah ia meminta untuk dihalalkan pada saat ini sebelum datang hari tidak berlaku lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, maka akan diambil dari pahala amal salehnya itu yang sebanding dengan kadar kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki kebaikan, maka akan diambil dosa orang yang dizaliminya kemudian dibebankan kepadanya."
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قَبَّلَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم الحسنَ بنَ عليٍّ رضي الله عنهما ، وعنده الأَقْرَعُ بنُ حَابِسٍ، فقال الأَقْرَعُ: إنَّ لي عَشَرَةً من الوَلَدِ ما قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا، فَنَظَرَ إليهِ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فقال: «مَنْ لَا يَرْحَم لَا يُرْحَمُ!».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mencium Al-Ḥasan bin Ali -raḍiyallāhu 'anhu-ma, dan saat itu di sisi beliau ada Al-Aqra' bin Ḥābis.
Al-Aqra' berkata, "Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh anak, namun tidak seorang pun yang aku cium." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memandangnya lalu bersabda, "Siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayangi."
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: قال رسول اللَّه -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم-: «من مرَّ في شيء من مساجدنا، أو أسواقنا، ومعه نَبْلٌ فَلْيُمْسِكْ، أو لِيَقْبِضْ على نِصَالِهَا بكفِّه؛ أنْ يصيب أحدا من المسلمين منها بشيء».
Dari Abu Musa al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Siapa melewati masjid-masjid kami, atau pasar-pasar kami dengan membawa panah maka hendaklah ia memegangnya erat-erat dan menjaga ujungnya, agar tidak melukai seorang muslimpun.”
عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه مرفوعًا: «مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ مِنَ الليلِ، أو عَنْ شَيْءٍ مِنه، فَقَرَأَهُ ما بَيْنَ صَلَاةِ الفَجْرِ وَصَلَاةِ الظُّهْرِ، كُتِبَ لهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ الليلِ».
Dari Umar bin Khaṭṭab -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Siapa yang tertidur dari hizbnya (kebiasaan salatnya) di malam hari atau sebagiannya, lalu ia menggantinya di waktu antara salat Subuh dan salat Zuhur, akan ditulis untuknya seolah-olah ia mengerjakannya di malam hari."
عن سمرة بن جندب رضي الله عنه : أن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال: «منهم مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إلى كَعْبَيْهِ، ومنهم مَنْ تَأْخُذُهُ إلى رُكْبَتَيْهِ، ومِنْهُم مَنْ تَأْخُذُهُ إلى حُجْزَتِهِ، ومنهم مَنْ تَأْخُذُهُ إلى تَرْقُوَتِهِ».
Dari Samurah bin Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū’, “Di antara mereka ada yang dibakar (disiksa) oleh api neraka hingga kedua mata kakinya, diantara mereka ada yang sampai kedua lututnya, diantara mereka ada yang sampai ke pinggangnya, dan diantara mereka ada yang sampai jakunnya (lehernya).”
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: حَضَرَتِ الصلاةُ فقامَ مَنْ كان قريبَ الدارِ إلى أَهْلِهِ، وبَقِيَ قَوْمٌ، فأُتِيَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمِخْضَبٍ مِنْ حِجَارَةٍ، فَصَغُرَ المِخْضَبُ أَنْ يَبْسُطَ فيهِ كَفَّهُ، فتَوَضَّأَ القومُ كلهم. قالوا: كم كنتم؟ قال: ثمانينَ وزيادةً.
وفي رواية: أَنَّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم دعا بإناءٍ من مَاءٍ، فأُتِيَ بقَدَحٍ رَحْرَاحٍ فيهِ شَيْءٌ من ماءٍ، فوضعَ أَصَابِعَهُ فيهِ، قال أنس: فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إلى الماءِ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ، فَحَزَرْتُ مَنْ تَوَضَّأَ ما بَيْنَ السبعينَ إلى الثمانينَ.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Waktu salat sudah tiba, lantas orang yang rumahnya dekat (masjid) masuk ke rumahnya dan tersisa sekelompok orang. Selanjutnya dibawakanlah satu wadah air dari batu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ternyata wadah itu terlalu kecil bagi beliau untuk membentangkan telapak tangan beliau di dalamnya. Selanjutnya orang-orang itu seluruhnya berwudu. Orang-orang bertanya, "Berapa jumlah kalian saat itu?" Anas bin Malik menjawab, "Delapan puluh orang lebih."
Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta wadah berisi air. Lantas dibawakanlah wadah air yang lebar tapi isinya sedikit. Lantas beliau meletakkan jari-jarinya di dalam wadah itu".
Anas berkata, "Selanjutnya aku melihat air memancar dari sela-sela jari-jemari beliau. Aku pun menaksir (jumlah) orang yang berwudu antara tujuh puluh sampai delapan puluh orang".
عن جابر رضي الله عنه : أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَأَلَ أَهْلَهُ الأُدُمَ، فقالوا: مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ، فَدَعَا بِهِ، فَجَعَلَ يَأْكُلُ، وَيَقُولُ: «نِعْمَ الأُدُمُ الخَلَّ، نِعْمَ الأُدُمُ الخَلَّ».
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah meminta lauk kepada istri-istrinya. Mereka berkata, “Kami tidak memiliki apa-apa kecuali cuka, lalu beliau memintanya untuk diambilkan dan kemudian makan dengan cuka tersebut seraya bersabda, “Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baiknya lauk adalah cuka.”
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu pada keduanya, yakni kesehatan dan waktu luang."
عن أنسٍ رضي الله عنه عن النبيِّ صلى الله عليه وسلم : أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرجلُ قَائِمًا.
قال قَتَادَةُ: فقلنا لأنسٍ: فالأَكْلُ؟ قال: ذلك أَشَرُّ - أو أَخْبَثُ.
وفي رواية: أَنَّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم زَجَرَ عن الشُّرْبِ قائمًا.
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ منكم قَائِمًا، فمن نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau melarang seseorang minum sambil berdiri. Qatādah berkata, "Lalu kami berkata kepada Anas, Bagaimana dengan makan (sambil berdiri)?" Dia menjawab, "Hal itu lebih buruk – atau lebih menjijikkan. Dalam sebuah riwayat, bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang minum sambil berdiri. Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Siapa yang lupa maka hendaknya dia memuntahkannya!”
عن أبي هريرة وعبد الله بن عباس رضي الله عنهم قالا: نَهَى رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُشْرَبَ مِنْ فِي السِّقاءِ أو القِرْبَةِ.
Dari Abu Hurairah dan Abdullah bin Abbas -raḍiyallahu 'anhum-, keduanya berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang minum dari mulut teko atau qirbah (kantong air dari kulit)."
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عنِ النَّفْخ في الشّراب، فقال رجل: القَذَاة أَرَاهَا في الإناء؟ فقال: «أَهْرِقْهَا». قال: إِنِّي لا أَرْوى من نَفَس واحد؟ قال: «فَأَبِنِ القدح إذًا عن فِيك».
Dari Abu Sa’īd al-Khudrī -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang meniup minuman. Lalu seseorang berkata, “Bagaimana jika ada kotoran yang aku lihat di dalam wadah air itu?" Lantas beliau bersabda, “Tumpahkan saja!” Ia berkata, "Dahagaku tidak hilang dengan (minum) satu kali tarikan nafas." Beliau bersabda, “Kalau begitu, jauhkanlah wadah air itu dari mulutmu.”
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «والذي نفسي بيده، لو لم تذنبوا، لذهب الله بكم، وجاء بقوم يُذْنِبُونَ، فيستغفرون اللهَ تعالى، فيغفر لهم».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', “Demi Zat yang jiwaku berada di tangannya, kalau seandainya kalian tidak berbuat dosa, sungguh Allah akan membinasakan kalian, dan Allah akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka beristigfar kepada Allah -Ta'ālā-, lalu Allah mengampuni mereka."
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, 'Wahai anak Adam! Selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni semua dosamu yang telah kamu lakukan, sedang Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika dosamu setinggi langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni, sedang Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku sedikit pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.'"
عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم تَلَا قَوْلَ اللهِ عز وجل فِي إِبْرَاهِيمَ صلى الله عليه وسلم : {رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي} [إبراهيم: 36] الآية، وقَوْلَ عِيسَى صلى الله عليه وسلم : {إِنْ تُعَذِّبْهُم فَإِنَّهُم عِبَادَكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُم فَإِنَّكَ أَنْتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ} [المائدة: 118] فَرَفَعَ يَدَيْهِ وقَالَ: «اللهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي» وبَكَى، فقالَ اللهُ عز وجل : «يا جِبْرِيلُ، اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ -ورَبُّكَ أَعْلَمُ- فَسَلْهُ مَا يُبْكِيهِ؟» فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ، فَأَخْبَرْهُ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بما قَالَ -وهو أعلم- فقالَ اللهُ تعالى : «يَا جِبْرِيلُ، اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ، فَقُلْ: إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِي أُمَّتِكَ وَلَا نَسُوءُكَ».
Dari Abdullah bin Amru -raḍiyallahu 'anhumā- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca firman Allah -'Azza wa Jalla- tentang ucapan Nabi Ibrahim -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Ya Rabbku! Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku..." (Ibrāhīm: 36), dan ucapan Nabi Isa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Māidah: 118). Lantas beliau menengadahkan kedua tangan sambil mengucapkan, "Ya Allah, (selamatkan) umatku, (selamatkan) umatku", lalu beliau menangis. Maka Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, "Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad -dan Rabbmu lebih mengetahui-, lalu tanyakan padanya, apakah yang membuatnya menangis? Lantas Jibril mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan beliau memberitahukan padanya apa yang beliau ucapkan tersebut -dan Dia lebih mengetahui hal itu-. Maka Allah -Ta'ālā- berfirman, "Wahai Jibril! Pergilah menemui Muhammad, lalu katakan, "Kami akan membuatmu rida terkait umatmu dan Kami tak akan membuatmu sedih."
عن ابنِ عمرَ رضي الله عنهما ، قال: مَرَرْتُ على رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وفي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ، فقال: «يا عبدَ اللهِ، ارْفَعْ إِزَارَكَ» فَرَفَعْتُهُ ثم قال: «زِدْ» فَزِدْتُ، فما زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ، فقال بعضُ القَوْمِ: إلى أين؟ فقال: إلى أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ.
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Aku pernah lewat di hadapan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sementara sarungku terjurai. Maka beliau bersabda, "Wahai Abdullah, naikkan sarungmu!" Aku pun menaikkannya. Kemudian beliau bersabda, "naikkan lagi!" Aku pun menaikkannya lagi. Sejak itu aku selalu menjaga agar sarungku sebatas itu. Sebagian orang bertanya, "Sampai di mana batasnya?" Ia menjawab, "Sampai pertengahan betis."
عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «يُبْعَثُ كلُّ عبدٍ على ما مات عليه».
Dari Jabir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Setiap orang dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal dunia."
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan tidak dikhitan." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, laki-laki dan perempuan semuanya, sebagian akan melihat (aurat) yang lain?" Beliau ﷺ bersabda, "Wahai Aisyah, perkaranya lebih dahsyat daripada mereka akan saling lihat satu sama lain."
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «يضحكُ اللهُ سبحانه وتعالى إلى رجلين يقتلُ أحدُهما الآخرَ يدخلانِ الجنةَ، يقاتلُ هذا في سبيل الله فيُقْتَلُ، ثم يتوبُ اللهُ على القاتلِ فيُسْلِمُ فَيُسْتَشْهَدُ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tertawa karena perihal dua orang yang satu membunuh yang kedua, namun kedua-duanya masuk surga. Yang pertama berperang di jalan Allah hingga gugur. Selanjutnya Allah menerima tobat pembunuh hingga ia masuk Islam kemudian mati syahid."