Wa yauma yaḥsyuruhum ka'allam yalbaṡū illā sā‘atam minan-nahāri yata‘ārafūna bainahum, qad khasiral-lażīna każżabū biliqā'illāhi wa mā kānū muhtadīn(a).
(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari, (seperti ketika) mereka (sejenak) saling mengenal di antara mereka (setelah dibangkitkan dari alam kubur). Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah dan mereka bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Wa immā nuriyannaka ba‘ḍal-lażī na‘iduhum au natawaffayannaka fa ilainā marji‘uhum ṡummallāhu syahīdun ‘alā mā yaf‘alūn(a).
Sesungguhnya jika Kami benar-benar memperlihatkan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagian dari (siksa) yang Kami janjikan kepada mereka (di dunia), atau jika Kami mewafatkan engkau (sebelum datangnya azab itu), hanya kepada Kamilah mereka kembali, kemudian Allah menjadi saksi atas apa yang mereka lakukan.
Wa likulli ummatir rasūl(un), fa iżā jā'a rasūluhum quḍiya bainahum bil-qisṭi wa hum lā yuẓlamūn(a).
Setiap umat mempunyai rasul. Apabila rasul mereka telah datang (di akhirat kelak), diputuskanlah (oleh Allah) di antara mereka dengan adil, sedangkan mereka tidak dizalimi (sedikit pun).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak kuasa (menolak) mudarat dan tidak pula (mendatangkan) manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.” Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak (pula) dapat meminta percepatan.
Qul ara'aitum in atākum ‘ażābuhū bayātan au nahāram māżā yasta‘jilu minhul-mujrimūn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Terangkanlah kepadaku, jika datang kepada kamu siksaan-Nya pada waktu malam atau siang hari, (siksa) manakah yang diminta untuk disegerakan oleh para pendurhaka itu?”
Aṡumma iżā mā waqa‘a āmantum bih(ī), āl'āna wa qad kuntum bihī tasta‘jilūn(a).
Apabila azab itu terjadi, apakah kemudian kamu baru memercayainya? Apakah (baru) sekarang (kamu beriman), padahal sebelumnya kamu selalu meminta agar ia disegerakan?
Kemudian, dikatakan kepada orang-orang yang zalim itu, “Rasakanlah olehmu azab yang kekal. (Bukankah) kamu tidak diberi balasan, melainkan (setimpal) dengan apa yang selama ini telah kamu usahakan?”
Wa yastambi'ūnaka aḥaqqun huw(a), qul ī wa rabbī innahū laḥaqq(un), wa mā antum bimu‘jizīn(a).
Mereka menanyakan kepadamu (Nabi Muhammad), “Benarkah ia (azab yang dijanjikan Allah) itu?” Katakanlah, “Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya (azab) itu pasti benar dan sekali-kali kamu tidak dapat menghindar.”
Wa lau anna likulli nafsin ẓalamat mā fil-arḍi laftadat bih(ī), wa asarrun-nadāmata lammā ra'awul-‘ażāb(a), wa quḍiya bainahum bil-qisṭi wa hum lā yuẓlamūn(a).
Seandainya setiap orang yang berbuat zalim itu (mempunyai) apa yang ada di bumi, tentu dia menebus diri dengannya. Mereka menyembunyikan penyesalan ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Diputuskanlah (oleh Allah) di antara mereka dengan adil, sedangkan mereka tidak dizalimi (sedikit pun).
Ketahuilah, sesungguhnya milik Allahlah apa yang ada di langit dan di bumi. Ketahuilah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Yā ayyuhan-nāsu qad jā'atkum mau‘iẓatum mir rabbikum wa syifā'ul limā fiṣ-ṣudūr(i), wa hudaw wa raḥmatul lil-mu'minīn(a).
Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin.
Qul ara'aitum mā anzalallāhu lakum mir rizqin fa ja‘altum minhu ḥarāmaw wa ḥalālā(n), qul āllāhu ażina lakum am ‘alallāhi taftarūn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal.” Katakanlah, “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) ataukah kamu mengada-ada atas nama Allah?”
Wa mā ẓannul-lażīna yaftarūna ‘alallāhil-każiba yaumal-qiyāmah(ti), innallāha lażū faḍlin ‘alan-nāsi wa lākinna akṡarahum lā yasykurūn(a).
Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah (berkenaan dengan apa yang akan Allah berikan kepada mereka) pada hari Kiamat? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur.
Wa mā takūnu fī sya'niw wa mā tatlū minhu min qur'āniw wa lā ta‘malūna min ‘amalin illā kunnā ‘alaikum syuhūdan iż tufīḍūna fīh(i), wa mā ya‘zubu ‘ar rabbika mim miṡqāli żarratin fil-arḍi wa lā fis-samā'i wa lā aṣgara min żālika wa lā akbara illā fī kitābim mubīn(in).
Engkau (Nabi Muhammad) tidak berada dalam suatu urusan, tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an, dan tidak pula mengerjakan suatu pekerjaan, kecuali Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak ada yang luput sedikit pun dari (pengetahuan) Tuhanmu, walaupun seberat zarah, baik di bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, kecuali semua tercatat dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz).
Lahumul-busyrā fil-ḥayātid-dun-yā wa fil-ākhirah(ti), lā tabdīla likalimātillāh(i), żālika huwal-fauzul-‘aẓīm((u).
Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (ketetapan dan janji) Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.
Wa lā yaḥzunka qauluhum, innal-‘izzata lillāhi jamī‘ā(n), huwas-samī‘ul-‘alīm(u).
Janganlah engkau (Nabi Muhammad) sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya milik Allah. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Alā inna lillāhi man fis-samāwāti wa man fil-arḍ(i), wa mā yattabi‘ul-lażīna yad‘ūna min dūnillāhi syurakā'(a), iy yattabi‘ūna illaẓ-ẓanna wa in hum illā yakhruṣūn(a).
Ketahuilah bahwa sesungguhnya milik Allahlah siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi. Orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah tidaklah mengikuti (suatu kebenaran). Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah menduga-duga.
Dialah yang menjadikan malam bagimu agar kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang (mau) mendengar.
Qāluttakhażallāhu waladan subḥānah(ū), huwal-ganiyy(u), lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), in ‘indakum min sulṭānim bihāżā, ataqūlūna ‘alallāhi mā lā ta‘lamūn(a).
Mereka (yang menyekutukan Allah) berkata, “Allah mengangkat anak.” Maha Suci Dia. Dialah Yang Maha Kaya. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai alasan kuat tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui?
(Bagi mereka) kesenangan (sesaat) ketika di dunia, selanjutnya kepada Kamilah tempat mereka kembali, kemudian Kami jadikan mereka merasakan azab yang keras karena mereka selalu kufur.
Watlu ‘alaihim naba'a nūḥ(in), iż qāla liqaumihī yā qaumi in kāna kabura ‘alaikum maqāmī wa tażkīrī bi'āyātillāhi fa ‘alallāhi tawakkaltu fa ajmi‘ū amrakum wa syurakā'akum ṡumma lā yakun amrukum ‘alaikum gummatan ṡummaqḍū ilayya wa lā tunẓirūn(i).
Bacakanlah (sampaikanlah wahai Nabi Muhammad) kepada mereka berita penting (tentang) Nuh ketika dia berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, jika terasa berat bagi kamu keberadaanku tinggal (bersamamu) dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, kepada Allahlah aku bertawakal. Oleh karena itu, bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku), selanjutnya janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Kemudian, bertindaklah terhadap diriku dan janganlah kamu tunda-tunda (tindakan itu) kepadaku.
Fa in tawallaitum famā sa'altukum min ajr(in), in ajriya illā ‘alallāh(i), wa umirtu an akūna minal-muslimīn(a).
Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta imbalan sedikit pun darimu. Imbalanku tidak lain hanyalah dari Allah dan aku diperintah agar aku masuk ke dalam golongan orang-orang muslim.”
Fa każżabūhu fa najjaināhu wa mam ma‘ahū fil-fulki wa ja‘alnāhum khalā'ifa wa agraqnal-lażīna każżabū bi'āyātinā, fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-munżarīn(a).
Mereka mendustakannya (Nuh). Lalu, Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera serta Kami jadikan mereka sebagai generasi penerus dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.
Kemudian, Kami mengutus setelahnya (Nuh) beberapa rasul kepada kaum mereka (umat masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, tetapi mereka tidak mau beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya. Demikianlah Kami mengunci hati orang-orang yang melampaui batas.
Ṡumma ba‘aṡnā mim ba‘dihim mūsā wa hārūna ilā fir‘auna wa mala'ihī bi'āyātinā fastakbarū wa kānū qaumam mujrimīn(a).
Kemudian, setelah mereka Kami mengutus Musa dan Harun kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya, dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Lalu, mereka menyombongkan diri dan mereka adalah kaum pendurhaka.
Musa berkata, “Apakah (pantas) kamu mengatakan terhadap kebenaran (mukjizat) ketika ia datang kepadamu, ‘sihirkah ini?’ Padahal, para penyihir itu tidaklah mendapat kemenangan.”
Qālū aji'tanā litalfitanā ‘ammā wajadnā ‘alaihi ābā'anā wa takūna lakumal-kibriyā'u fil-arḍ(i), wa mā naḥnu lakumā bimu'minīn(a).
Mereka berkata, “Apakah engkau (Musa) datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (menyembah berhala), dan agar kamu berdua (Musa dan Harun) mempunyai kekuasaan di bumi (negeri Mesir)? Kami tidak akan beriman kepada kamu berdua.”
Setelah mereka melemparkan (tali-temali), Musa berkata, “Apa yang kamu bawa itulah sihir. Sesungguhnya Allah akan membatalkan (mengalahkan)-nya. Sesungguhnya Allah tidak membiarkan perbuatan orang-orang yang berbuat kerusakan.
Famā āmana limūsā illā żurriyyatum min qaumihī ‘alā khaufim min fir‘auna wa mala'ihim ay yaftinahum, wa inna fir‘auna la‘ālin fil-arḍ(i), wa innahū laminal-musrifīn(a).
Tidak ada yang beriman kepada Musa selain keturunan dari kaumnya disertai ketakutan kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya yang akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir‘aun benar-benar sewenang-wenang di bumi. Sesungguhnya ia benar-benar termasuk orang-orang yang melampaui batas.