مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُوْنَ
Mā lakum lā tanāṣarūn(a).
(Mereka lalu dikecam,) “Mengapa kamu tidak tolong-menolong (sebagaimana kamu di dunia)?”
As-Saffat 25–64
مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُوْنَ
Mā lakum lā tanāṣarūn(a).
(Mereka lalu dikecam,) “Mengapa kamu tidak tolong-menolong (sebagaimana kamu di dunia)?”
بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُوْنَ
Bal humul-yauma mustaslimūn(a).
Bahkan, mereka pada hari itu menyerah (kepada putusan Allah).
وَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ
Wa aqbala ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍiy yatasā'alūn(a).
Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya (berbantah-bantahan).
قَالُوْٓا اِنَّكُمْ كُنْتُمْ تَأْتُوْنَنَا عَنِ الْيَمِيْنِ
Qālū innakum kuntum ta'tūnanā ‘anil-yamīn(i).
(Pengikut) mereka berkata (kepada pemimpinnya), “Sesungguhnya kamulah yang dahulu selalu mendatangi kami dari arah kanan (untuk menghalangi kami dari kebajikan).”
قَالُوْا بَلْ لَّمْ تَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَۚ
Qālū bal lam takūnū mu'minīn(a).
(Pemimpin) mereka menjawab, “(Tidak,) bahkan kamulah yang tidak (mau) menjadi orang mukmin.
وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍۚ بَلْ كُنْتُمْ قَوْمًا طٰغِيْنَ
Wa mā kāna lanā ‘alaikum min sulṭān(in), bal kuntum qauman ṭāgīn(a).
(Sebenarnya,) kami sedikit pun tidak berkuasa terhadapmu (untuk menghalang-halangimu), bahkan kamulah kaum yang melampaui batas.
فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَآ ۖاِنَّا لَذَاۤىِٕقُوْنَ
Fa ḥaqqa ‘alainā qaulu rabbinā, innā lażā'iqūn(a).
Maka, putusan (azab) Tuhan (akan) benar-benar menimpa kita. Pasti kita akan merasakan (azab itu).
فَاَغْوَيْنٰكُمْ اِنَّا كُنَّا غٰوِيْنَ
Fa agwainākum innā kunnā gāwīn(a).
Kami (mengakui) telah menyesatkan kamu. Sesungguhnya kami sendiri orang-orang yang sesat.”
فَاِنَّهُمْ يَوْمَىِٕذٍ فِى الْعَذَابِ مُشْتَرِكُوْنَ
Fa innahum yauma'iżin fil-‘ażābi musytarikūn(a).
Sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama merasakan azab.
اِنَّا كَذٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِيْنَ
Innā każālika naf‘alu bil-mujrimīn(a).
Sesungguhnya demikianlah Kami memperlakukan orang-orang yang berbuat dosa.
اِنَّهُمْ كَانُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ يَسْتَكْبِرُوْنَ ۙ
Innahum kānū iżā qīla lahum lā ilāha illallāhu yastakbirūn(a).
Sesungguhnya dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “Lā ilāha illallāh” (Tidak ada tuhan selain Allah), mereka menyombongkan diri.
وَيَقُوْلُوْنَ اَىِٕنَّا لَتَارِكُوْٓا اٰلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُوْنٍ ۗ
Wa yaqūlūna a'innā latārikū ālihatinā lisyā‘irim majnūn(in).
Mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?”
بَلْ جَاۤءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِيْنَ
Bal jā'a bil-ḥaqqi wa ṣaddaqal-mursalīn(a).
Padahal dia (Nabi Muhammad) datang dengan membawa kebenaran dan membenarkan para rasul (sebelumnya).
اِنَّكُمْ لَذَاۤىِٕقُوا الْعَذَابِ الْاَلِيْمِ ۚ
Innakum lażā'iqul-‘ażābil-alīm(i).
Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih.
وَمَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۙ
Wa mā tujzauna illā mā kuntum ta‘malūn(a).
Kamu tidak diberi balasan, kecuali terhadap apa yang telah kamu kerjakan.
اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ
Illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn(a).
Akan tetapi, hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya),
اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَّعْلُوْمٌۙ
Ulā'ika lahum rizqum ma‘lūm(un).
mereka itu memperoleh rezeki yang sudah ditentukan,
فَوَاكِهُ ۚوَهُمْ مُّكْرَمُوْنَۙ
Fawākihu wa hum mukramūn(a).
(yaitu) buah-buahan. Mereka adalah orang-orang yang dimuliakan
فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِۙ
Fī jannātin na‘īm(i).
di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.
عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ
‘Alā sururim mutaqābilīn(a).
(Mereka duduk) berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.
يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍۢ ۙ
Yuṭāfu ‘alaihim bika'sim mim ma‘īn(in).
Kepada mereka diedarkan gelas (yang berisi minuman) dari mata air (surga).
بَيْضَاۤءَ لَذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَۚ
Baiḍā'a lażżatil lisy-syāribīn(a).
(Warnanya) putih bersih dan lezat rasanya bagi orang-orang yang meminum(-nya).
لَا فِيْهَا غَوْلٌ وَّلَا هُمْ عَنْهَا يُنْزَفُوْنَ
Lā fīhā gauluw wa lā hum ‘anhā yunzafūn(a).
Tidak ada di dalamnya (unsur) yang membahayakan dan mereka tidak mabuk karenanya.
وَعِنْدَهُمْ قٰصِرٰتُ الطَّرْفِ عِيْنٌ ۙ
Wa ‘indahum qāṣirātuṭ-ṭarfi ‘īn(un).
Di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah dan membatasi pandangannya (dari selain pasangan mereka).
كَاَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَّكْنُوْنٌ
Ka'annahum baiḍum maknūn(un).
(Warna kulit) mereka seperti (warna) telur yang tersimpan dengan baik.
فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ
Fa'aqbala ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍiy yatasā'alūn(a).
Mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap.
قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ اِنِّيْ كَانَ لِيْ قَرِيْنٌۙ
Qāla qā'ilum minhum innī kāna lī qarīn(un).
Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman
يَّقُوْلُ اَءِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِيْنَ
Yaqūlu a'innaka laminal-muṣaddiqīn(a).
yang berkata, ‘Apakah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang membenarkan (hari Kebangkitan)?
ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَدِيْنُوْنَ
A'iżā mitnā wa kunnā turāban a'innā lamadīnūn(a).
Apabila kami telah mati (lalu) menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar (akan dibangkitkan untuk) diberi balasan?’”
قَالَ هَلْ اَنْتُمْ مُّطَّلِعُوْنَ
Qāla hal antum muṭṭali‘ūn(a).
Dia berkata, “Maukah kamu menengok (temanku itu)?”
فَاطَّلَعَ فَرَاٰهُ فِيْ سَوَاۤءِ الْجَحِيْمِ
Faṭṭala‘a fa ra'āhu fī sawā'il-jaḥīm(i).
Maka, dia menengoknya. Lalu, dia melihat (teman)-nya itu di tengah-tengah (neraka) Jahim.
قَالَ تَاللّٰهِ اِنْ كِدْتَّ لَتُرْدِيْنِ ۙ
Qāla tallāhi in kitta laturdīn(i).
Dia berkata, “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku.
وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّيْ لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِيْنَ
Wa lau lā ni‘matu rabbī lakuntu minal-muḥḍarīn(a).
Sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).
اَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِيْنَۙ
Afamā naḥnu bimayyitīn(a).
Apakah kita tidak akan mati,
اِلَّا مَوْتَتَنَا الْاُوْلٰى وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ
Illā mautatunal-ūlā wa mā naḥnu bimu‘ażżabīn(a).
kecuali kematian kita yang pertama saja (di dunia) dan kita tidak akan diazab (di akhirat ini)?”
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Inna hāżā lahuwal-fauzul-‘aẓīm(u).
Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang agung.
لِمِثْلِ هٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعٰمِلُوْنَ
Limiṡli hāżā falya‘malil-‘āmilūn(a).
Untuk (kemenangan) seperti ini, hendaklah beramal (di dunia) orang-orang yang mampu beramal.
اَذٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا اَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّوْمِ
Ażālika khairun nuzulan am syajaratuz-zaqqūm(i).
Apakah (makanan surga) itu hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqum?
اِنَّا جَعَلْنٰهَا فِتْنَةً لِّلظّٰلِمِيْنَ
Innā ja‘alnāhā fitnatal liẓ-ẓālimīn(a).
Sesungguhnya Kami menjadikannya (pohon zaqum itu) sebagai azab bagi orang-orang zalim.
اِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِيْٓ اَصْلِ الْجَحِيْمِۙ
Innahā syajaratun takhruju fī aṣlil-jaḥīm(i).
Sesungguhnya itu adalah pohon yang keluar dari dasar (neraka) Jahim.