Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Andaikan tidak akan memberatkan orang-orang mukmin -atau: umatku-, niscaya aku akan menyuruh mereka bersiwak setiap hendak salat."
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, "Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau bersabda, "Salat pada waktunya." Dia bertanya, "Kemudian amal apa?" Beliau menjawab, "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua." Dia bertanya lagi, "Kemudian amal apa?" Beliau menjawab, "Berjihad di jalan Allah." Ibnu Mas'ūd berkata, "Beliau menyampaikan itu kepadaku. Seandainya aku meminta tambahan, niscaya beliau akan tambahkan."
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ، ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Salat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Andaikata mereka mengetahui keutamaan yang terkandung dalam keduanya, pasti mereka menghadirinya meskipun dengan cara merangkak. Sungguh aku sangat ingin menyuruh seseorang mengumandangkan ikamah, kemudian aku menyuruh seseorang untuk mengimami salat orang-orang, kemudian aku berangkat bersama dengan beberapa orang yang membawa kayu bakar menuju orang-orang yang tidak menghadiri salat, lalu membakar rumah-rumah mereka dengan api."
Muṣ'ab bin Sa'ad meriwayatkan, Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- pernah menganggap dirinya memiliki keutamaan di atas sahabat lainnya, maka Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah kalian diberi pertolongan dan rezeki melainkan dengan sebab orang-orang yang lemah di antara kalian."
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((إن أمتي يُدْعَون يوم القيامة غُرًّا مُحَجَلِّين من آثار الوُضُوء)). فمن اسْتَطَاع منكم أن يُطِيل غُرَّتَه فَليَفعل.
وفي لفظ لمسلم: ((رأَيت أبا هريرة يتوضَّأ، فغسل وجهه ويديه حتى كاد يبلغ المنكبين، ثم غسل رجليه حتى رَفَع إلى السَّاقين، ثم قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إنَّ أمتي يُدْعَون يوم القيامة غُرًّا مُحَجَّلِين من آثار الوُضُوء)) فمن استطاع منكم أن يطيل غُرَّتَه وتَحْجِيلَه فَليَفعَل.
وفي لفظ لمسلم: سمعت خليلي صلى الله عليه وسلم يقول: ((تَبْلُغ الحِليَة من المؤمن حيث يبلغ الوُضُوء)).
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat umatku akan dipanggil dengan wajah bercahaya lagi berseri-seri karena bekas air wudu.” Maka barang siapa di antara kalian mampu memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan. Dalam lafal riwayat Muslim disebutkan: “Aku melihat Abu Hurairah berwudu, lalu ia membasuh muka dan kedua tangannya hingga hampir sampai kedua bahunya, kemudian ia membasuh kedua kakinya hingga kedua betis. Kemudian ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat umatku akan dipanggil dengan wajah bercahaya dan berseri-seri karena bekas air wudu." Maka barang siapa di antara kalian mampu memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan.” Dalam lafal lain riwayat Muslim: Aku telah mendengar kekasihku -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Perhiasan (cahaya) seorang Mukmin adalah sejauh mana air wudunya sampai."
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: «إِنَّ الله تَعَالى يَقُول يَوْمَ القِيَامَة: أَيْنَ المُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِي؟ اليَوم أُظِلُّهُم فِي ظِلِّي يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّي».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- berfirman pada hari kiamat, "Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini aku menaungi mereka dalam naungan-Ku di hari tidak ada naungan selain naungan-Ku."
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Kami pernah sedang bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba beliau mendengar sebuah gemuruh. Nabi ﷺ lalu bertanya, "Apakah kalian tahu suara apa ini?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun, ia jatuh ke dalam neraka sekarang hingga berakhir di dasarnya.”
Salamah bin Al-Akwa' -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Ada seorang pria yang makan di hadapan Rasulullah ﷺ dengan tangan kirinya. Maka beliau berkata, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang itu menjawab, “Aku tak bisa.” Nabi pun berkata, “Semoga engkau benar-benar tidak bisa.” Padahal tidak ada yang menghalanginya untuk itu kecuali kesombongannya, maka ia pun tak mampu mengangkat tangannya ke mulutnya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengajak kepada petunjuk (kebajikan), maka ia mendapatkan pahala yang semisal dengan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa yang semisal dengan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun."
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعودٍ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ، وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ».
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh, termasuk sejelek-jelek manusia adalah orang yang masih hidup saat hari Kiamat tiba dan orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid."
عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه رأى رجلا انْتَفَضَ لما سمع حديثا عن النبي صلى الله عليه وسلم في الصفات -استنكارا لذلك– فقال: "ما فَرَقُ هؤلاء؟ يجدون رِقَّةً عند مُحْكَمِهِ، ويَهْلِكُونَ عند مُتَشَابِهِهِ" .
Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwasannya ia pernah melihat seseorang gemetar ketika mendengar hadis Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang sifat-sifat (Allah) -karena mengingkari hal itu- lalu berkata, "Apa yang membuat mereka takut? Mereka menemukan kelembutan pada ayat muḥkam (ayat yang maksudnya jelas), dan binasa pada ayat mutasyābih (ayat yang makna lahirnya bukanlah yang dimaksudkannya)."
عن عبد الله ابن عباس رضي الله عنهما كان عمر رضي الله عنه يُدْخِلُنِي مع أَشْيَاخِ بَدْرٍ فَكَأَنَّ بَعْضَهُم وَجَدَ في نفسه، فقال: لم يُدْخِلُ هذا معنا ولنا أبناءٌ مثله؟! فقال عمر: إنه من حَيْثُ عَلِمْتُمْ! فدعاني ذاتَ يومٍ فأَدَخَلَنِي مَعَهُمْ فما رأيتُ أنه دعاني يَوْمَئِذٍ إلا لِيُرِيَهُم، قال: ما تقولون في قول الله:(إذا جاء نصر الله والفتح)، [الفتح: 1]، فقال بعضهم: أَمَرَنَا نَحْمَدُ اللهَ ونَسْتَغْفِرُهُ إذا نصرنا وفَتَحَ علينا، وسكتَ بعضُهُم فَلَمْ يَقُلْ شيئًا، فقال لي: أكذلك تقولُ يا ابنَ عباس؟ فقلت: لا، قال: فما تقول؟ قلت: هو أَجَلُ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَعْلَمَهُ له، قال: "إذا جاء نصر الله والفتح" وذلك علامةُ أجلِكَ، "فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان توابا" فقال عمر رضي الله عنه : مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إلَّا مَا تَقُولُ.
Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhuma-, ia berkata, "Umar -raḍiyallāhu 'anhu- mengajakku bergabung dengan tokoh-tokoh senior perang Badar. Tampak sebagian mereka merasakan gerah di dirinya dan berkata, "Kenapa pemuda ini dimasukkan ke dalam kelompok senior, padahal kita mempunyai anak yang sebaya dengannya?" Umar menjawab, "Itulah penilaian kalian terhadapnya." Pada suatu hari Umar memanggilku dan memasukkanku bersama mereka. Aku tahu bahwa Umar memanggilku pada hari itu adalah untuk menunjukkan (kelebihanku) kepada mereka. Umar berkata: "Apakah pendapat kalian tentang firman Allah -Ta'ālā-, 'Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan?' (An-Naṣr: 1). Sebagian mereka menjawab, "Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan memohon ampunan-Nya apabila kita mendapat pertolongan dan kemenangan." Sebagian yang lain terdiam tanpa ada yang mengatakan apapun." Lantas Umar bertanya kepadaku, "Apakah pendapatmu juga seperti itu, wahai Ibnu Abbas?" Aku jawab, "Tidak." Umar bertanya, "Lantas apa pendapatmu?" Aku jawab, "Ayat itu merupakan (isyarat dekatnya) ajal Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang diberitahukan oleh Allah kepada beliau. Allah berfirman, "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan." Dan itu adalah tanda dekatnya ajalmu. "Maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya karena Dia-lah Zat Yang Maha Penerima Taubat." Umar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku tidak mengetahui maksud ayat itu melain seperti apa yang kamu katakan."
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah manusia memasuki waktu pagi, melainkan ada dua malaikat yang turun (ke bumi). Salah satu dari kedua malaikat itu berdoa, ‘Ya Allah! Berikanlah ganti (yang baik) kepada orang yang bersedekah.' Sedang malaikat yang satunya lagi mengatakan, ‘Ya Allah! Timpakanlah kehancuran pada orang yang menahan hartanya (kikir).'"
عن أبي نُجَيد عمران بن حصين الخزاعي رضي الله عنه أن امرأة من جهينة أتت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وهي حُبْلَى من الزنى، فقالت: يا رسول الله، أصبتُ حدًّا فَأَقِمْهُ عليَّ، فدعا نبيُّ الله صلى الله عليه وسلم وَلِيَّهَا، فقال: «أَحْسِنْ إِلَيْهَا، فإذا وَضَعَتْ فَأْتِنِي» ففعل، فأمر بها نبي الله صلى الله عليه وسلم فَشُدَّتْ عليها ثيابها، ثم أمر بها فَرُجِمَتْ، ثم صلى عليها. فقال له عمر: تُصَلِّي عليها يا رسول الله وقد زنت؟ قال: «لقد تابت توبةً لو قُسِمَتْ بين سبعين من أهل المدينة لَوَسِعَتْهُم، وهل وَجَدَتْ أفضل من أن جَادَتْ بنفسها لله عز وجل ؟!».
Dari Abu Nujaid Imrān Ibnu Huṣāin Al-Khuzā'i -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ada seorang wanita dari Juhainah menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam keadaan hamil karena zina, dia berkata, "Wahai Rasulullah! Aku melanggar hukum (had), terapkanlah had itu padaku!" Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memanggil walinya dan bersabda, "Berbuat baiklah padanya! Apabila ia telah melahirkan, bawalah dia kepadaku!" Wali itu melakukan apa yang beliau perintahkan. Selanjutnya Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan agar wanita itu diikatkan pada pakaiannya dengan erat lalu beliau memerintahkan (para sahabat) untuk merajamnya. Setelah itu beliau menshalatkannya. Kemudian berkatalah Umar, "Apakah baginda menyalatkannya, padahal ia telah berzina? Beliau menjawab, "Ia benar-benar telah bertaubat yang sekiranya taubatnya dibagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, niscaya cukup buat mereka. Apakah engkau mendapatkan seseorang yang lebih baik daripada dia yang menyerahkan jiwanya semata-mata mengharapkan ridha Allah -'Azza wa Jalla-?"
Maḥmūd bin Labīd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Hal yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apa syirik kecil itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu ria. Allah ﷻ akan berfirman pada mereka di hari Kiamat ketika manusia diberikan balasan amal mereka, 'Carilah orang-orang yang kalian bersikap ria di hadapannya saat di dunia, lalu tunggulah, apakah kalian menemukan balasan dari mereka?'"
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسعودٍ رضي الله عنه عن رَسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قال: «الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، -ثلاثًا-»، وَمَا مِنَّا إِلَّا، وَلَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Ṭiyarah (perasaan sial) itu syirik, ṭiyarah itu syirik, ṭiyarah itu syirik." Beliau mengucapkannya tiga kali. Tidak ada seorang pun di antara kita melainkan pernah ditimpa ṭiyarah. Hanya saja, Allah ﷻ melenyapkannya dengan tawakal.
عن عدي بن حاتم رضي الله عنه : "أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقرأ هذه الآية: "اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ" فقلت له: إنا لسنا نعبدهم، قال: أليس يُحَرِّمُونَ ما أحل الله فتُحَرِّمُونَهُ؟ ويُحِلُّونَ ما حَرَّمَ الله فتُحِلُّونَهُ؟ فقلت: بلى، قال: فتلك عبادتهم".
Adiy bin Ḥātim -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwasanya dia mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca ayat berikut, "Mereka menjadikan para rahib (Yahudi), dan pendeta-pendeta (Naṣrani) mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (juga) Almasih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan." Aku berkata kepadanya, "Namun kami tidak menyembah mereka." Beliau bersabda, "Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkankan oleh Allah lalu kalian ikut mengharamkannya? Dan mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah lalu kalian ikut menghalalkannya?" Aku katakan, "Benar." Beliau bersabda, "Itulah (yang dimaksud) beribadah kepada mereka."
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: "جاء حَبْرٌ من الأحبار إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا محمد، إنا نجد أن الله يجعل السماوات على إِصْبَعٍ، والأَرَضَينَ على إِصْبَعٍ، والشجر على إِصْبَعٍ، والماء على إِصْبَعٍ، والثَّرَى على إِصْبَعٍ، وسائر الخلق على إِصْبَعٍ، فيقول: أنا الملك، فضحك النبي صلى الله عليه وسلم حتى بَدَتْ نَوَاجِذَهُ تَصْدِيقًا لقول الحبر، ثم قرأ: (وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ).
وفي رواية لمسلم: "والجبال والشجر على إِصْبَعٍ، ثم يَهُزُّهُنَّ فيقول: أنا الملك، أنا الله".
وفي رواية للبخاري: "يجعل السماوات على إِصْبَعٍ، والماء والثَّرَى على إِصْبَعٍ، وسائر الخلق على إِصْبَعٍ".
Dari Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-,ia mengatakan, "Seorang rahib yahudi mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia berkata, "Wahai Muhammad, kami mendapati bahwa Allah meletakkan langit-langit di satu jari, bumi-bumi di satu jari, pepohonan di satu jari, air di satu jari, debu di satu jari dan makhluk lainnya di satu jari. Lalu Dia mengatakan, "Aku adalah Sang Raja." Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tertawa hingga nampak gigi-gigi geraham beliau karena membenarkan ucapan rahib tersebut. Kemudian beliau membaca, "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat." (QS. Az-Zumar: 67). Dalam riwayat Muslim, "Gunung-gunung dan pepohonan di satu jari, kemudian Dia menggoyang semuanya dan berfirman, "Aku Sang Raja, Aku adalah Allah." Dalam riwayat Bukhari, "Dia meletakkan langit-langit di satu jari, air dan debu di satu jari, serta makhluk lainnya di satu jari."
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما مرفوعاً: "يَطْوِي الله السماوات يوم القيامة، ثم يَأْخُذُهُنَّ بيده اليمنى، ثم يقول: أنا الملك أين الجبارون؟ أين المتكبرون؟ ثم يَطْوِي الأَرَضِينَ السبع، ثم يأخذهن بشماله، ثم يقول: أنا الملك، أين الجبارون؟ أين المتكبرون؟".
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', "Allah akan melipat semua langit kelak di hari kiamat, kemudian Dia menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya dan berfirman, "Akulah Maha Raja, di manakah orang-orang yang bertindak sewenang-wenang? Di manakah orang-orang yang sombong?" Kemudian Dia melipat tujuh lapis bumi dan menggenggamnya dengan tangan kiri-Nya seraya berfirman, "Akulah Maha Raja, di manakah orang-orang yang bertindak sewenang-wenang? Di manakah orang-orang sombong?"
عن عائشة رضي الله عنها قالت: ((كُنْت أَغْسِلُ الْجَنَابَةَ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَيَخْرُجُ إلَى الصَّلاةِ، وَإِنَّ بُقَعَ الْمَاءِ فِي ثَوْبِهِ)).
وَفِي رواية: ((لَقَدْ كُنْتُ أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَرْكاً، فَيُصَلِّي فِيهِ)).
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata, "Aku pernah mencuci (bekas) janabah dari baju Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau keluar hendak salat sedang bekas (bintik-bintik) air masih membekas di baju beliau." Dalam riwayat lain, "Sungguh aku pernah menggaruknya dari baju Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau salat dengan baju itu."